Konsistensi Pembeda

motoblog.it
motoblog.it

SEIRING musim yang berlangsung relatif ketat dan berimbang, sampai menghadirkan banyak pemenang berbeda, konsistensi Marc Marquez merupakan kunci menjadi juara dunia MotoGP 2016.

Semenjak kejuaraan balap motor grand prix dilangsungkan awal 1949, baru sekarang terdapat delapan rider berbeda yang berhasil menjadi pemenang seri. Bahkan kecenderungan itu terjadi beruntun mulai seri keenam.

Hal itu membuktikan persaingan kelas primer MotoGP sedemikian ketat, karena banyak peluang kemungkinan untuk naik podium teratas.

Di tengah-tengah persaingan tersebut, Marquez pun tampil menonjol lantaran tidak pernah absen menyudahi balapan tanpa poin. Marquez satu-satunya rider yang rutin meraih poin dalam setiap balapan, sampai MotoGP Jepang, Minggu (16/10).

Dari 15 seri berlalu, Marquez sempat sekali finish di sepuluh besar, tepatnya peringkat 13 di MotoGP Prancis. Meski demikian, finish di posisi itu tetap menghasilkan 3 poin.

Konsistensi meraih poin itu pula yang membuat Marquez memiliki peluang memastikan titel juara dunia di Jepang. Syaratnya adalah Valentino Rossi sebagai pesain terdekat, maksimal hanya menambah 1 poin. Sedangkan Jorge Lorenzo finish di luar podium.

crash
crash

Keberuntungan ternyata berpihak kepada Marquez. Diawali crash Valentino Rossi di lap 6 yang membuat salah seorang legenda hidup MotoGP itu gagal menambah poin.

Kemudian lima lap menjelang finish, giliran Lorenzo yang mencium aspal. Dengan demikian, lengkap sudah syarat Marquez menjadi juara dunia MotoGP 2016, ditambah keberhasilan pembalap Repsol Honda itu memenangi balapan di Jepang.

Dengan 273 poin, Marquez dipastikan tak lagi bisa terkejar Rossi yang mengemas 196 poin dan Lorenzo dengan 182, sekalipun masih terdapat tiga seri tersisa.

Ini merupakan titel juara dunia MotoGP yang ketiga dalam empat musim keikutsertaan Marquez di kelas primer setelah musim 2013 dan 2014, atau gelar kelima di grand prix motor. Dengan usia yang masih 23 tahun, Marquez juga tercatat sebagai rider termuda dengan tiga titel juara dunia kelas primer.

Tiga titel itu sendiri membuat Marquez menyamai tiga gelar Lorenzo yang diraih di musim 2010, 2012 dan 2015, Wayne Rainey di musim 1990, 1991 dan 1992, serta Kenny Roberts di musim 1978, 1979 dan 1980.

crash
crash

Hasil di Sirkuit Motegi itu merupakan kemenangan kelima yang diraih Marquez di musim 2016. Sebelumnya Marquez memenangi MotoGP Argentina, Amerika Serikat, Jerman dan Aragon.

Jumlah itu sudah lebih banyak dari rider lain seperti Lorenzo dengan tiga kemenangan dan Rossi dua kemenangan. Sedangkan Maverick Vinales, Dani Pedrosa, Cal Crutchlow, Andrea Iannone dan Jack Miller masing-masing memiliki satu kemenangan.

Selain lima kemenangan, Marquez tiga kali finish sebagai runner up di MotoGP Italia, Barcelona dan Belanda. Demikian pula finish ketiga yang didapatkan di MotoGP Qatar, Spanyol dan Republik Ceko.

Sisanya Marquez dua kali finish keempat di MotoGP Inggris dan San Marino, serta sekali finis kelima yang dirasakan di MotoGP Austria. “Tak banyak yang memfavoritkan kami di awal musim, seiring sejumlah kesulitan mengadaptasi aturan baru. Tapi kami selalu yakin dan berusaha, selain mengubah strategi agar selalu lebih tenang,” papar Marquez.

Dibandingkan musim 2015, Marquez sebenarnya lebih banyak meraih kemenangan. Namun hal itu juga dibarengi enam kali gagal meraih poin, karena terlalu memaksakan diri menjadi pemenang, “Dalam momen-momen tertentu saya bisa lebih menggeber agar bisa lebih cepat. Sedangkan semusim sebelumnya, terlalu banyak tekanan dan strategi kurang tepat,” tandasnya.

Leave a comment

  • IMI KALSEL

    JL. Mistar Cokrokusumo No 14 RT 013 RW 003 Sungai Besar - Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan 70174 +62 511 4777 837 / Fax +62 511 4772783