Lulus Ujian Crocker

EMPAT hari berkubang di lumpur, Tim Offroad Kalimantan (TOK) menyelesaikan rute ekstrim Borneo Safari International Offroad Challenge 2016 di Pegunungan Crocker, Ranau, Sabah, Malaysia, Minggu (6/11).

Berlangsung sejak 30 Oktober 2016, Borneo Safari adalah event offroad tahunan yang digelar Sabah Four Wheels Drive Association sejak 1990. Menginjak edisi 26 ini, hadir sejumlah offroader dari berbagai negara.

Selain tuan rumah Malaysia dan Indonesia, juga berpartipasi offroader Brunei Darussalam, Thailand, Jepang, China dan Portugal. Total Borneo Safari 2016 diikuti 347 kendaraan dengan pengemudi dan kru yang berjumlah 914 orang.

TOK sendiri diperkuat tujuh mobil. Kalimantan Selatan diwakili offroader Barabai, Amuntai dan Banjarbaru. H Muhammad Helmi menurunkan Toyota Land Cruiser VX80, H Umar di belakang kemudi Daihatsu Rocky, Haji Arifin Syahrul mengendarai Toyota Hilux LV100 dan Hans Aldo mengandalkan Toyota Land Cruiser BJ40.

Dua mobil lain berasal dari Samarinda dan Balikpapan yang mewakili Kalimantan Timur. Budi Karyo mengendarai Suzuki Jimny, sedangkan Budi Kertayasa mengemudikan Daihatsu Hiline.

Menu utama Borneo Safari adalah lintasan offroad sejauh hampir 500 kilometer. Mulai dari Kinabalu, Ranau, hutan bekas konsesi Timberwell, Marudu dan kembali ke Kinabalu.

Tergabung di Grup C bersama 15 offroader Sabah dan Sarawak dari total enam grup, TOK masuk trek ekstrem itu mulai pukul 09.00 waktu setempat, Kamis (3/11), sebelum tiba di persimpangan menuju Timberwell pukul 11.30, Minggu (6/11).

“Alhamdulillah semua anggota tim dan mobil dalam kondisi sehat,” papar H Muhammad Helmi, koordinator TOK yang juga Biro Olahraga Mobil Offroad Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kalimantan Selatan seperti dilansir antaranews.

Rute hardcore Borneo Safari 2016 dimulai dari Kampung Garung di Ranau yang terletak 120 kilometer tenggara Kinabalu. Rute tersebut berada di luar kawasan Taman Nasional Kinabalu yang berada di ketinggian 4.095 mdpl. Semua peserta merintis ulang jalan bekas penebangan kayu yang diusahakan Timberwell Sdn Bhd sepanjang 40 kilometer.

Baru 150 meter dari gerbang trek, rintangan dimulai sebuah anak air dalam membelah jalan. Sebagian mobil yang sudah dibuat kokoh dengan menggunakan suku cadang khusus medan berat, melewati rintangan dengan sekali sentak. Sebagian yang lain dengan sabar menggunakan winch.

“Jalan itu sudah ditinggalkan 10 tahun lepas, sehingga tetumbuhan sudah kembali berkuasa dan sebagian longsor. Jalan itu juga sebahagian dulu hanya dipakai buldozer,” tutur Rahim, co leader Grup C.

Akibat hujan hampir sepanjang hari, plus sudah dilewati ratusan mobil peserta lain, jalan tanah merah itu berubah menjadi bubur licin yang membuat jalan mobil zigzag di ruas tertentu.

Tanjakan tinggi yang jadi rintangan berikutnya, baru bisa dilewati Grup C menjelang malam dan sudah terlambat dari jadwal. Namun demikian, Grup C terus jalan hingga Km 07 dari Kampung Garung, “Jalan tertutup tim di depan yang camping,” papar Shamsuddin, leader Grup C yang merupakan offroader kawakan Brunei Darussalam.

Untuk mengejar jadwal, Grup C berlumpur ria nyaris 48 jam nonstop mulai Jumat dan Sabtu, ditambah setengah Minggu. Mereka hanya istirahat sejenak untuk makan pagi dan waktu makan berikutnya disisipkan di sela membebaskan mobil dari jepitan lumpur, menaikkan ke tanjakan, atau menurunkan di turunan curam licin.

Daihatsu Hiline yang dikemudikan offroader Balikpapan, Budi Kertayasa, akhirnya ditarik enam mobil lain dengan cara bergandengan seperti kereta api. Oleh karena menggunakan ban ukuran diameter 33 inci dan ground clearance pendek, mobil itu kerap tersangkut di tanah liat, “Mungkin sekitar 5 kilometer terakhir, kami terlambat lebih kurang 30 menit,” cetus Shamsuddin.

Begitu tiba di finish, seluruh peserta menghadiri seremoni penutupan di Sutera Harbour Hotel. Setelah rehat dua hari, sekaligus memperbaiki beberapa kerusakan, TOK kembali ke Indonesia, Rabu (9/11).

Mereka kembali lewat jalan datang. Menyusuri pantai Borneo melintasi Sabah, masuk Sarawak, melintas Brunei Darussalam, kembali masuk Sarawak dan kembali ke Tanah Air via Entikong di Kalimantan Barat. Sejatinya perjalanan pulang pun tidak kalah berat. Kelelahan menjadi masalah yang cukup berat, mengingat mereka berangkat dari Banjarmasin, Jumat (20/10).

Sebelumnya dalam perjalanan menuju Sabah, TOK dan beberapa peserta dari Jakarta, sempat ditahan beberapa jam oleh Kepolisian Brunai Darussalam, tepatnya di Balai Polis Kuala Belait, Jumat (28/10). Mereka dituduh melanggar lalu lintas dan mengendarai mobil diubahsuai atau modifikasi yang dilarang di Brunei.

Setelah hampir 30 jam ditahan, mereka kemudian dibawa ke Majelis Bandar, Sabtu (29/10). Dalam persidangan tersebut, mereka tidak terbukti melanggar aturan lalu lintas. Sementara kereta ubahsuai alias mobil modifikasi hanya untuk melintasi Brunei, dibolehkan Jabatan Pengangkutan Darat (JPD) tanpa perlu mengurus administrasi apapun.

Namun demikian, mereka tetap dikenai denda sebesar 50 dolar Brunei atau Rp450 ribu, karena menggunakan film gelap untuk melapisi kaca-kaca mobil. Mereka kemudian keluar dari Brunei, diantar sfaf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bandar Seri Begawan.

“Kami menyayangkan kejadian ini, karena hanya untuk menyatakan kesalahan yang sepele, perlu waktu hingga hampir dua hari,” ketus Endy Ghafur Fadly, Minister Counsellor dari KBRI di Bandar Seri Begawan.

Leave a comment

  • IMI KALSEL

    JL. Mistar Cokrokusumo No 14 RT 013 RW 003 Sungai Besar - Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan 70174 +62 511 4777 837 / Fax +62 511 4772783