Pelanggaran Helm Mendominasi


DIREKTORAT Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Kalimantan Selatan menuntaskan Operasi Keselamatan Intan 2018. Hasilnya kesadaran menggunakan helm masih minim di masyarakat.

Operasi berlangsung selama 21 hari sejak 5 hingga 25 Maret 2018 di seluruh kabupaten/kota di Kalsel. Selama operasi tersebut, Dilantas Polda Kalsel mencatat 42.717 pengendara melakukan pelanggaran dengan rincian 3.301 ditilang dan 39.416 ditegur.

Tercatat pelanggaran sepeda motor sebanyak 28.830 perkara. Kelalaian tidak menggunakan helm masih tinggi dengan 6.729 perkara. Sedangkan sisanya adalah memacu melebihi batas maksimal 609 perkara dan berboncengan lebih dari satu orang 606 perkara.

Lantas menyalip tanpa mengindahkan rambu sebanyak 211 perkara, melawan arus 2.611 perkara, melanggar lampu lalu lintas 586 perkara dan mengemudikan kendaraan dengan tidak wajar 1.776 perkara.

Pelanggaran selanjutnya adalah tak memenuhi syarat teknis dan layak jalan 311 perkara, tidak menyalakan lampu utama siang maupun malam 5.656 perkara, berbelok tanpa isyarat 952 perkara dan balapan di jalan raya 297 perkara.

Melanggar rambu berhenti dan parkir juga cukup banyak, karena menyentuh angka 1.198 perkara, melanggar marka berhenti 389 perkara, serta tidak mematuhi perintah petugas 103 perkara.

Pelanggaran berikutnya adalah kelengkapan surat-menyurat 3.069 perkara, kelengkapan kendaraan 2.087 perkara dan lain-lain 1.853 perkara.

Adapun total pelanggaran mobil dan kendaraan khusus mencapai 6.257 perkara. Itu termasuk melebihi batas maksimal kecepatan sebanyak 400 perkara, melebihi muatan 471 perkara, melanggar rambu menyalip 62 perkara, melawan arus 272 perkara dan mengabaikan lampu lalu lintas 24 perkara.

Sama seperti helm untuk pengendara sepeda motor, kesadaran mengenakan sabuk pengaman juga masih minim, lantaran terjadi pelanggaran sebanyak 2.271 perkara.

tribratapoldakalsel

Sementara pelanggaran seperti mengemudikan kendaraan dengan tidak wajar 450 perkara, syarat teknis dan layak jalan 155 perkara, tidak menyalakan lampu utama malam hari 3 perkara, berbelok tanpa isyarat 44 perkara dan balapan di jalan raya 2 perkara.

Kemudian melanggar rambu berhenti dan parkir 718 perkara, melanggar marka berhenti 443 perkara, tidak mematuhi perintah petugas 18 perkara, surat-menyurat 466 perkara, tanpa kelengkapan kendaraan 249 perkara dan lain-lain 209 perkara.

Adapun barang bukti yang disita sebanyak 2.145 dengan rincian SIM sebanyak 698 lembar, STNK 1.167 lembar dan kendaraan sebanyak 280 unit.

Kendaraan yang terlibat dalam pelanggaran berjumlah 37.184 unit dengan rincian sepeda motor 29.949 unit, mobil penumpang 4.754 unit, bus 168 unit, mobil barang 2.226 unit dan kendaraan khusus 87 unit

Dilihat dari lisensi, pengendara sepeda motor alias pemilik SIM C lagi-lagi mendominasi dengan SIM C 15.989 perkara, kemudian SIM A 3.639 perkara, SIM A umum 200 perkara, SIM B1 526 perkara, B1 Umum 331 perkara dan B2 164 perkara,.

Selanjutnya 73 perkara melibatkan pemilik SIM D, SIM Internasional 8 perkara, serta tanpa SIM 9.463 perkara. Total pelanggaran SIM berjumlah 30.647 perkara

Operasi Keselamatan Intan 2018 juga mencatat kecelakaan lalu lintas sebanyak 23 perkara, korban meninggal dunia 18 orang, luka berat 6 orang, luka ringan 19 orang dengan kerugian materiil Rp105.200.000.

Dari kasus kecelakaan, barang bukti yang disita terdiri dari SIM sebanyak 14 lembar, STNK 14 lembar dan kendaraan 34 unit.

Sementara korban tabrak pejalan kaki dengan korban meninggal berjumlah 3 orang dan luka ringan 4 orang. Jua terdapat korban tabrak lari meninggal dunia sebanyak 4 orang dan luka ringan 4 orang.

tribratapoldakalsel
tribratapoldakalsel

Selanjutnya korban meninggal dunia akibat tertabrak sepeda motor berjumlah 8 orang, luka berat 4 orang dan luka ringan 1 orang.

“Selama pelaksanaan operasi, jumlah pelanggaran mengalami kenaikan hingga 6.706 perkara atau 19 persen dibandingkan operasi 2017,” jelas Dirlantas Polda Kalsel, Kombes Pol E Zulfan SIK MSi, melalui Kepala Subbid Gakkum Ditlantas Polda Kalsel AKBP Afri Darmawan.

“Pemberian tilang juga naik 3.301 perkara atau meningkat 100 persen. Sedangkan pemberian teguran melonjak 3.405 perkara atau 9 persen dari operasi serupa setahun sebelumnya,” imbuhnya.

Beruntung jumlah kecelakaan lalu lintas menurun 28 persen atau sebanyak 14 kasus dibandingkan 2017. Lantas jumlah korban kecelakaan lalu lintas meninggal dunia 7 orang atau 28 persen.

Sedangkan korban luka berat tidak mengalami perubahan, korban luka ringan mengalami penurunan 9 orang atau 32 persen dan kerugian materiil juga turun Rp12 juta atau 10 persen.

“Selama melaksanakan operasi, kami juga kerap menemukan persoalan seperti kondisi jalan sempit, banyak badan jalan digunakan sebagai lahan parkir, keterbatasan sarana dan prasarana pejalan kaki semacam jembatan penyeberangan, trotoar, lampu penerangan jalan dan marka jalan,” beber Afri.

“Juga banyak cat zebra cross yang memudar, sehingga jalan raya belum ramah untuk pejalan kaki. Oleh karena itu, operasi juga berusaha melaksanakan deteksi dini terhadap jalur lalu lintas yang sering terjadi pelanggaran, kemacetan dan kecelakaan,” imbuhnya.

Melalui kegiatan Dikmas Lantas, operasi juga dibarengi edukasi berlalu lintas kepada masyarakat, baik langsung di jalan raya maupun kunjungan ke kelompok warga, pangkalan ojek dan sekolah.

“Keterbatasan pengetahuan itulah yang memicu pelanggaran rambu-rambu lalu lintas dan perangkat keselamatan berkendara,” tandas Afri.

Leave a comment

  • IMI KALSEL

    JL. Mistar Cokrokusumo No 14 RT 013 RW 003 Sungai Besar - Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan 70174 +62 511 4777 837 / Fax +62 511 4772783